Senin, 26 Oktober 2009

Sumpah Orang Lapar



Aku anak perempuan Ki Suto Kluthuk
lahir oleh bumi yang sedang sakit

aku selalu lapar tapi memilih diam puasa
karena laparku telah bersumpah

akan menjadi lapar abadi
jika untuk buang lapar aku hilang budi

makan gunung dan makan hutan
makan sawah dan makan lahan

makan pulau dan makan tambang
makan kota dan makan nasib sesama

jika aku lapar kumangsa lapar sendiri
jika tuan lapar keringat kerja aku beri

jika lapar ruh hitam teknologi
haruskah kulepas gunung adi?

Di antara Keangkuhan


aku anak perempuan Ki Suto Kluthuk
berjalan terus berjalan
di mana-mana menghadang keangkuhan
tak disapa – sudah
tak didengar – sudah
tak diberi – sudah
bagaimana mungkin kubilang – ya sudah

dirantai jiwaku – sudah
dibantai harapku – sudah
digadai nasibku – sudah
bagaimana mungkin kubilang – tak masalah
ah, orang tlah lupa guritan hati
ah, orang tlah lupa bisik nurani
dalam tembangan jiwa insani

“oe eo oe eo oe eo oe eo
jangan tidur sore-sore bulang terang indah permai
lebih baik memujilah pada Tuhan Sang Pemurah
agar hidup tertata, tentram damai dan sentosa
oe eo oe eo oe eo oe eo”

di antara debur ombak di laut barat
terdengar pesan purba diulang-ulang
hidup harus dipagari – hidup harus dipagari
honocoroko dotopo rogo – honocoroko dotopo roso
ho!

Perempuan Kembara yang Rindu Pulang



Aku perempuian kembara
berjalan memanggul kampak berkarat
hasrat mendekap dunia
saat hidup tanpa ruwat
kini aku rindu pulang
semua tanda telah hilang
yang kuingat hanya tembang pesisiran

Aduh ibu itu apa
menghitam menjadi mega
benarkah asap bencana

Aduh ibu cerminku hilang
sungai bening yang kupandang
kini penuh limbah sebrang

Aduh ibu mana rumahku
yang ada jalan tiang seribu
benarkah untuk muktiku

Aduh ibu tertusuk duri
lukanya tembus ke hati
walau sakit hidup matiku di sini

Jangan tanya lebih baik diam saja
Jangan tanya lebih baik diam saja

Minggu, 25 Oktober 2009

Kelahiran Anak Perempuan Ki Suto Kluthuk


Aku, anak perempuan Ki Suto Kluthuk
lahir malam diiringi suara suluk
tanpa piranti suci hama
selain pisau bambo kunyit empu
siap menyambut pahit getir, aku
tangisku melengking mengatasi erang ibu
semua heran terdiam gagu
lalu bertanya kelak akan jadi apa aku

Aku, anak perempuan Ki Suto Kluthuk
sejak kecil penuh derita berat
jiwa berkarat dendam yang khianat
tanahku disayat tanpa ruwat
jiwaku jiwa kembara
padang ilalang dan bukit cadas
langkahpun tuntas

Aku, anak perempuan Ki Suto Kluthuk
bapakku bapa angkasa
ibuku ibu bumi
nafasku angina Utara
darahku sungai Utara
dagingku tanah Utara
jangan kau usik semua itu
jika tak ingin dikutuh leluhurku

Sabtu, 24 Oktober 2009

Catatan Tahun ke-85




bagi Sitor Situmorang penyairku

diantara langkah-langkah
masih kulihat jejaknya
di antara suara-suara
masih kudengar doanya
diantara gaduh kota
masih kusimak kelebat bayangnya
lelakiku saksi jaman
perang dan damai
batu dan mesiu
rumpun kata dalam buku
matahari pun bersarang di rambutnya
rembulan di atas kuburan
diboyongnya dalam kata

lelakiku dari tanah seribu nyanyian
tahukah bulan itu sangat setia
purbani dan purnama
di atas laut dan sabana
di atas gedung dan huma
dan di jalan musim senjamu
malam nanti jelang purnama
bersaksi di langit Jakarta

bagi pemilik hari kedua oktober
kuhening bunga jadi kata
kuhening kata jadi doa
‘semoga bahagia’
(2 okt 09)

Catatan Mei II




siapa malam-malam memanggil semesta
yang ibu, menunjukkan jiwanya yang
berubah warna, dari pelangi jadi kelabu
karena disaput asap bulan Mei lalu
saat manusia berubah dalam dua warna
dan dua nama, yang satu kepompong hilang daya
yang satu dajjal pemangsa
langit terbakar
kota-kota mangkok ambyar
jiwa-jiwa terbabat dengan sendirinya
bertemperasan mencari cakrawala

Catatan Mei I




bunga yang tumbuh dari bercak darah

tercecer antara Salemba dan Semanggi

nebar aroma Mei simpan gejolak harap

yang kian menipis

karena berhala-berhala berlintasan

di musim perubahan

sambil tak henti hentakkan linggis



bunga yang tumbuh dari lembar mosaik jiwa

raungkan perubahan dari waktu ke waktu

sampai hilang semua saudara

yang tersisa hari ini hanya catatan

dan syair-syair jalanan

dulu dibaca dari kampus ke kampus

membuat impian muda akhirnya jadi kukus



ingatkah, ikrar itu ditandai darah

janji itu dipatri bulan merah

musim-musim penantian tak bertuan

we, Jakarta ditelan kepongahan sendiri

jalan raya menjadi kali

tapi kau di mana, anakku

ini Mei sudah datang lagi