Selasa, 27 Oktober 2009

Membaca Gua Kain Hitam I




menyimak gua kain hitam
terbayang yang berdendang di Tanjung Baram
terbayang bias pendar sungai Tinjar

memandang jalan setapak selepas hujan
menyatu baying rimba dan gua kain hitam

Serawak, November 2008

Monolog Burung Lelayang



mendengar gemerisik kami terbang
semesta jadi hampar tualang
tapi manusia merampas ulang
sarang walet
serat kehidupan

cericitnya tak pernah henti
berontak jiwa dengan bahasa tak kita mengerti

kami pewaris sah kerajaan gua purba
harus relakan sarang-sarang diambil
selagi cinta menetas dalam gigil
sarang walet
serat kehidupan

Sarawak, November 2008

Membaca Gua Niah




orang Semandin dalam angin
panas api jadi dingin

tak mantra segaib mantramu
aku datang ngidung mantraku

tak kata seelok katamu
aku datang dengan bunga kataku

orang Semandin setia menjaga gua
orang Semandin setia getarkan mantra

sentuh sesaji terlindung dinding batu
sambut burung walet pulang sarang

hadirkan pesona purba dunia wingit
setiap senja menjelang magrib

orang Semandin salami jiwa
orang Semandin ajari makna setia

Serawak, November 2008

Perempuan Perkasa itu Bernama Ibu




Telah kau suratkan
dengan cinta dan kesabaran
dalam memaknai kehidupan
bagi putra-putri harapan
pewaris masa depan

Telah kau kidungkan
setiap senja sepanjang musim
dalam memaknai hasta bratha
dalam melakoni ajaran hidup benar
aku menandai jejakmu,ibu

dalam hidup ini kau ajarkan
yang bernilai dan dimuliakan
adalah janji dan kesetiaan
adalah sumpah dan kejujuran
agar selalu diteguhkan

cintamu samodra bagi semua
senyum arifmu melati senja
ketabahanmu gunung raja
telah kau pesan wanti-wanti
jangan pernah mengkhianati cinta

Cempaka, Nopember 2008

Percakapan dengan Hujan


ada ritmis menepis-nepis kaca jendela
menyapa pagi dengan bahasanya sendiri
perempuan memang muara menjelang laut
segala tertampung awalnya hanyut
lalu kata-kata dan makna-makna
mengemas dirinya sendiri
memasang sayap-sayap untuk mengejar pelangi
ya, muara akulah itu
hujan semusim berkepanjangan
tak membuatku ragu nampung bebatu
hujan memahami dan terus menderas tanpa henti

Abstraksi Jiwa Murka



Lengan-lengan terpotong berdarah
sepatu larsa berdebu basah sendiri
dan senjata-senjata tak bertuan menangisi
induk tembang asal muasalnya
trauma panjang tak berkesudahan
menggilas bintang di langit hatimukah
hingga kegelapan tak terenyahkan
sementara matahari tetap bersaksi
seribu hening menebar di guguran pohon mahoni
balutkan pada luka jiwa murka
langit ruang merdeka
bagi jiwamu yang kembara

Kesaksian tentang Topeng



lela lela Indonesia tak ledhung-ledhung
lela lela hati lara tak ngidung-ngidung
lela lela telah merdeka tak ledhung-ledhung

Langit menjaring
wajah kita yang mengapung
wajah menjadi topeng-topeng tak terasa
kita kaget renggut topeng
tapi topeng menyatu wajah

Inilah wajah baru tanah airku?
topeng-topeng-topeng
wajah-wajah semakin tak jelas
bencana-bencana dalam bentuk culas

Aku marah jiwa tercacach
langit bagai penuh getah
tanah kelahiran bak cermin pecah
tapi tanah kelahiran tetap dikembangkan

Ada rupa, rupanya topeng
ada suara, suaranya topeng
ada tawa, tawanya topeng
ada gerak, geraknya topeng