Selasa, 27 Oktober 2009

SEKAR GISIK DAN PEREMPUAN DURGA




perempuan durga penghuni pulau karang
terus berputar, memilih dan mencakar
simbol pengkhianatan dan kerakusan
namun di mata lelaki wajah wayang, nampak mawar
walau rupa kasar langkah nyasar
membuat lelaki hilang nalar
tenggelam dalam nikmat durga penuh mantera
membuat pandang rabun hati bara
lalu malaikat dan burung putih kirim warta
dusta leleh pijar lava kerak luka
sekar gisik perempuan hilang mosaik
anak pawang jiwa retak ingin beraksi
siapa menabur akan menuai
hukum karma tak pernah lalai
meski sembunyi di balik doa subuh dan magrib

Bogor, 2006 - 2008

PERTANDA


kelelawar tak sabar di ambang fajar
ciptakan tanda atau hanya fatamorgana
fajar dini hanya bias purnama di kali
obat gaib bagi jiwa lukisan aib
jarum jam karat cipta dengus sekarat
sekedar pertanda?
tanya orang muda mengaku lahir dari batu
kusumpah pengukir jiwa yang jahanam kan terkutuk
karena membuat bunda remuk
kusumpah alam murka kan gulung para pendosa
tragedi buah anggur, tanpa belati pun hancur

Teratak Gondosuli, September 07

Kisah Purba Para Perempuan Terjajah


seorang lelaki membiuskan cerita lama
kepada perempuannya yang sederhana
dan di dustai sekian lama
atas nama fatamorgana kesetiaan
seorang lelaki picingkan mata baca suasana
yang di masa silam dinanti siang malam
tapi musim cepat berubah
diam - diam surat suci berlumur darah
sementara di kota - kota
derita anak manusia semakin parah :
jadilah perempuan yang meneduhkan lelaki
bisiknya menutupi dusta
masa silam aksaranya : jadilah segala bagiku
lelaki mencoba senyum sembunyikan dosa :
(perempuan telah tahu namun membiarkanya
kali ini diam ternyata emas )
para perempuan akhirnya diam kaku
kaki mereka lekat di batu - batu
tubuh mereka berubah jadi pohon
wajah berubah jadi cahaya ajaib
terkurung dalam lampion - lampion merah
tragedi tanah tumpah darah

Bogor,30 September 07

TEMBANG KASMARAN 84 PURNAMA




kembara tanah selatan
menahan nafas menyimak teratak tua
dari balik dinding muncul sosok aneh
menghela bayang - bayang
pelan diletakkan di ujung kaki lelaki
nampak kembali bayang memanjang
lelaki tertegun dan kasmaran
menyapa: izinkan aku bermukim
menunggu teratak menjaga musim
meski utara pernah mbalelo pada selatan
mari kita bangun jembatan pelangi
angin laut kita jadikan penepis maut
perang dulu kita catat jadi sejarah baru
musim - musim mereka ikat jadi Satu
baru 84 purnama tembang kasmaran itu
hadir sosok durga menebar jaring
lelaki tanah selatan kena gendam
sumpah dan janji diingkari
cinta dan setia dikhianati
sejarah anak manusia berulang kembali

Bogor, 2008

Pesan Ghaib di Tikungan Musim



musim basah selimuti kota
jalan raya jadi bengawan
kampong jadi telaga
murung membelit menyabit
senja gelap simpan hujan
pesannya dibawa angin Nopember

Nusantara itu mutiara kehidupan
karunia kemukjizatan
di atas bumi hutan-hutan ayu
pulau-pulau pasir kemilau
di dalam bumi tembang-tembang elok
simpan harapan masa datang
kalau saja dilestarikan
Nusantara kembali jaya
sampaikan apa yang harus disampaikan
pada para ulee balang, petinggi dan ondoafi
tebang hutan tak sepanjang musim
sisakan dalam kehidupan windu

cucu Ki Suto Legowo termangu
pesan gaib mengurai kalbu

Bogor, November 2008

Membaca Gua Kain Hitam II



membaca garis purba warisan
menyatu masa silam dan masa depan
orang-orang gaib bisiknya menyatu bisikku
hidup harus dipagari dalam abad yang tak henti

orang-orang dalam baying tiupkan hawa misteri
senyum arifnya perjuangan diam

Serawak, November 2008

Membaca Gua Kain Hitam I




menyimak gua kain hitam
terbayang yang berdendang di Tanjung Baram
terbayang bias pendar sungai Tinjar

memandang jalan setapak selepas hujan
menyatu baying rimba dan gua kain hitam

Serawak, November 2008